Senin, 28 September 2020

Materi Seni Tari 2

Bentuk, Jenis dan Nilai Estetis

Tari Tradisi

 

 A. Bentuk Penyajian Tari Tradisi

  1. Tari Tunggal

Bentuk penyajian tari tunggal adalah yang isi gambarannya mengisahkan seorang tokoh dan nama tariannya pun dari nama seorang tokohnya atau julukannya, seperti tokoh Srikandi, Arjuna dan sebagainya.

Tari Tunggal  adalah tarian yang dilakukan oleh seorang penari. Gerakannya mencapai tingkat kerumitan tertinggi dibandingkan dengan bentuk tari lainnya.

Tari Tunggal adalah perwujudan koreografi yang khas dan ditarikan oleh seorang penari. Tingkat kerumitan pengungkapannya relatif lebih tinggi dibandingkan bentuk tari lainnya. Kondisi ini dikarenakan dilakukan oleh satu orang penari, sehingga nilai-nilai estetik tarian yang dilakukannya bertumpuhanya kepada seorang penari. Demikian juga tatanan pada gerak tari tunggal memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi, sulit untuk dilakukan secara rampak.

Daya tarik tari Tunggal adalah daya tarik personal yang dimunculkan  oleh koreografer dan kepiawaian penarinya. Koreografi dan penarinya menjadi satu-satunya fokus perhatian, baik bagi pemusik yang mengiringi ataupun penonton yang menyaksikan.

Kekhususan lainnya adalah keleluasaan wilayah gerak penari yang bisa diolah sendiri berdasarkan kepekaan penarinya, sebagai contoh dalam mengolah ruang (maju-mundur, berputar dan sebagainya), mengatur waktu atau tempo musik (mengolah irama, cepat lambat), mengatur tenaga (kuat-lemah) dan olah rasa/ekspresi (memaknai gerak, tema dan mengintepretasikan isi tari). Berikut beberapa contoh bentuk penyajian tari tradisi tari tunggal:

a.  Tari Golek (Yogyakarta)

Tari Golek adalah tari yang ditarikan oleh remaja puteri. Pengertian remaja puteri adalah seorang wanita yang belum pernah menikah, berumur antara 12 tahun sampai 21 tahun. Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menginjak dewasa. Pada saat ini remaja puteri mengalami masa transisi/peralihan dari kanak-kanak ke remaja, sehingga seorang remaja ingin memperlihatkan pribadinya. Dalam masa perkembangan kepribadian seseorang, masa remaja mempunyai arti yang khusus. Dalam rangkaian proses perkembangan, masa ini seseorang tidak  mempunyai kedudukan yang jelas. Pada masa inilah remaja mulai mencari-cari atau mulai berfikir tentang potensi pribadi yang akan dipakai sebagai landasan selanjutnya.

 Persiapan Peragaan Karya Tari | Mikirbae.com 

b.  Tari Ngremo (Surabaya)

Tari Ngremo berasal dari tari upacara untuk menghormati tamu agung atau tamu penting dalam suatu pesta. Tarian ini biasa ditarikan oleh seorang penari pria, dalam perkembangannya tari Ngremo dapat ditarikan oleh beberapa penari pria atupun penari gadis remaja.

Sejarah Dan Makna Tari Remo - Sering Jalan 

c. Tari Gambyong

Menurut tradisi lisan, nama Gambyong bermula dari nama seorang dukun wanita yang bernama Nyi Lurah Gambyong. Dukun itu mengobati orang sakit atau pasiennya dengan cara menari, dan dari dukun wanita ini berkembang menjadi tarian Gambyong.

Berdasarkan informasi di atas, kiranya sulit untuk menentukan pendapat mana yang paling benar mengenai asal nama tari Gambyong. Tari Gambyong menggambarkan seorang gadis remaja yang sedang memperagakan kecantikannya. Tari ini merupakan tari tunggal. Istilah Gambyong berasal dari nama seorang penari ledek yang sangat baik menarinya dan wajahnyayang cantik.

Bentuk sajian tari Gambyong berpijak pada adanya rangkaian gerak yang telah ada, kemudian jumlah rangkaian gerak yang ada telah berkembang menjadi 33 macam. Penari Gambyong pada mulanya mengisi gending yang dibunyikan dengan gerak tari yang dimilikinya. Hal ini dapat menimbulkan saling menguji ketrampilan antara penari dan pengendangnya. Iringan yang digunakan adalah gending Ageng seperti Gambir Sawit Pancer Rena dan sebagainya.

Tari Gambyong, Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2016 - Direktorat Warisan  dan Diplomasi Budaya 

   2. Tari Berpasangan

Tari berpasangan adalah jenis tari yang dimainkan oleh 2 orang secara berpasangan. Pasangan dalam tari ini dapat berlawanan jenis atau sesama jenis. Gerakan antar kedua penari dalam tari berpasangan dimainkan dengan saling melengkapi, mengisi, dan saling berinteraksi. Tari berpasangan juga sering dipentaskan secara berkelompok, namun, selama menari, gerakan penarinya tetap dilakukan secara berpasang-pasangan. Berikut beberapa contoh penyajian tari tradisi tari berpasangan:

a. Tari Serampang Duabelas 

Yang pertama adalah Tari Serampang Duabelas asal Provinsi Riau, dan juga berkembang di Sumatera Barat, Timur dan Sumatera bagian Tengah. Ini adalah salah satu tarian populer Melayu yang telah ada sejak zaman lampau.

Tarian ini dimainkan oleh 2 penari, pria dan wanita, dimana maknanya bercerita tentang pertemuan dua manusia, yang akhirnya sama-sama menaruh dan membangun cinta hingga ke jenjang pernikahan.

Festival Tari Serampang Dua Belas Se-Nusantara 2014 - Gapura News

b. Tari Karonsih

Tari Karonsih ini bercerita tentang sepasang kekasih yang tengah menjalani hubungan asmara. Tarian ini dibawakan sepasang lawan jenis, dengan nama Dewi Sekartaji dan Panji Asmara Bangun.

Gerakannya halus, lembut dan mengayun lambat, dengan busana kebesaran putri serta pangeran Keraton Jawa. Tarian ini berasal dari Bahasa Jawa ‘kekaron atau sakloron tansah asih’ yang artinya keduanya saling mencintai.

Sarat Nuansa Romantis, 5 Tarian Nusantara Ini Lambangkan Kisah Asmara Dua  Sejoli

c. Tari Kethuk Tilu

Berikutnya berasal dari Jawa Timur, bernama Kethuk Tilu. Menurut informasi sejarah yang beredar, tari Kethuk Tilu ini merupakan cikal bakal kemunculan Tari Jaipong yang berasal dari Karawang.

Pemain dari tarian ini adalah dua orang perempuan. Namun kini, juga dimainkan secara berpasangan dengan berlawanan jenis. Fungsi tari ini adalah hiburan di berbagai acara, misalnya Pesta Pernikahan, penutup berbagai acara dan sebagainya

 Seni dan Budaya - Husein Sastranegara Airport

  3. Tari Kelompok

Tari kelompok adalah bentuk tarian yang ditarikan secara kelompok atau berpasang-pasangan dan tidak menutup kemungkinan bisa berbentuk drama tari/sendratari. Jenis tariannya dapat berupa tari tunggal atau tari berpasangan yang ditarikan secara berkelompok. Adapun gerakannya terdiri atas gerak seluruh anggota badan dan kaki, badan, lengan, sampai kepala.

Oleh karena ditarikan secara berkelompok maka peragaan geraknya haruslah kompak, serempak, serta saling mengisi dan melengkapi sehingga dibutuhkan kerja sama, kebersamaan, dan tanggung jawab dari seluruh penari yang terlibat. Berikut beberapa contoh tari tradisi tari kelompok:

a. Tari Saman

Salah satu tarian adat asal Aceh adalah Tari Saman. Tarian ini berasal dari dataran tinggi Gayo dan diciptakan oleh seorang ulama Aceh, Syekh Saman pada abad ke-XIV Masehi. Kala itu, Tari Saman merupakan salah satu media dakwah. Sebelum tari ini dipertunjukkan, pemuka adat akan memberikan nasehat kepada para pemain dan penontonnya. Selain itu, pertunjukkan tarian ini juga kental dengan syair petuah dan dakwah yang dilantunkan menggunakan bahasa Arab dan Gayo. Pada awal kehadirannya, Tari Saman merupakan tarian sakral yang hanya dipertontonkan pada saat peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW.

Kini, tarian ini menjadi tarian resmi yang biasanya menandai penyambutan tamu-tamu terhormat antar kabupaten maupun tamu-tamu negara pada saat pembukaan festival maupun seremonial kenegaraan lainnya. Tarian ini bisa jadi hanya menyajikan keindahan gerakan tanpa serta meriahnya tepuk tangan para penari sembari memukul dada dan pangkal paha dengan gerakan menghempaskan badan ke berbagai arah tanpa iringan musik.

Lazimnya, tarian ini terdiri dari belasan atau puluhan penari laki laki, dengan seorang pemimpin yang mengarahkan gerakannya yang kerap disebut syeikh. Seorang syeikh selain menjadi koreografer ia juga bertugas menyanyikan syair lagu Saman.
 
 Tari Saman, dari Aceh Sampai Mancanegara - Bobo

b. Tari Kipas Pakarena

Tari kipas adalah salah satu tari tradisional Indonesia yang berasal dari budaya masyarakat Gowa di Sulawesi Selatan. Lebih lengkap, tari ini bernama Tari Kipas Pakarena. Pakarena berasal dari kata “Karena” yang berarti main, menunjukan bahwa dalam tarian ini penari akan mempertunjukan kelihaiannya memainkan kipas-kipas di tangannya. Jika dilihat sekilas, tari kipas pakarena mirip dengan tari kipas khas Korea yang bernama Buchaechum. Namun jika diteliti lebih dalam lagi, keduanya memiliki banyak sekali perbedaan dan tidak saling berhubungan satu sama lain mulai dalam hal tema dan makna filosofis, gerakan, musik pengiring, hingga sejarah perkembangannya. Tari Kipas Pakarena Tidak ada yang tahu persis bagaimana sejarah tari kipas pakarena dimulai. Namun, sebagian masyarakat Gowa percaya, tarian ini berasal dari sebuah kisah perpisahan antara penghuni khayangan (boting langi) dan penghuni bumi (lino) di masa silam. Dalam sebuah legenda Gowa, disebutkan bahwa dahulu ada beberapa penghuni khayangan yang turun ke bumi untuk mengajarkan bagaimana cara bertanam, beternak, dan berburu pada para penghuni bumi. Setelah tugasnya selesai, mereka kemudian kembali pulang ke khayangan dan membuat penduduk bumi merasa sedih. Tari kipas pakarena adalah wujud kesedihan dan kerinduan penduduk bumi pada penghuni khayangan yang telah dengan tulus mengajarkan mereka cara bertahan hidup. 
 
 
 

B. Simbol Tari 

1. Simbol gerak

Simbol gerak adalah upaya penyampaian sebuah pesan pesan dalam tarian melalui gerakan. Contoh yang paling mudah adalah gerakan tari dayak yang menyerupai burung atau satwa. Hal ini menggambarkan bagaimana penari berusaha mengekspresikan dirinya sebebas satwa tersebut. Atau contoh lainnya adlaah tari baris dari Bali, dimana penari mengangkat bahu hingga setinggi telinga. Di sini maksudnya adalah penari berusaha untuk menggambarkan tubuh tegap para prajurit Bali di masa lalu. Dan juga mata yang melirik sangat tajam, menggambarkan bagaimana mereka berusaha awas dan waspada. 

2. Simbol tata busana 

Tata busana di sini terlihat pada tarian dayak dimana mereka berusaha menyerupai burung. Di sini simbol tata busana akan membuat pemirsanya lebih mudah mengintepretasikan cerita yang ada. 

3. Simbol rias 

Simbol tata rias juga berpengaruh penting. Semisal tari jaipong. Di sini pada tari jaipong tata rias wajah sangat kontras karena apa pun ekspresi penari harus terlihat jelas di penonton. Terutama di bawah tata cahaya yang kuat. 

Apabila ingin lebih akademis, maka ada beberapa simbol yang bisa lebih ditelaah 
1.  Konstitutif, berkaitan dengan kepercayaan seperti agama. 
2.  Kognitif, biasanya berkaitan dengan ilmu pasti. 
3.  Moral, berkaitan dengan norma dan moral
4.  Ekspresif, berkaitan dengan pengungkapan perasaan.

 C. Nilai Estetika Tari 

Estetika merupakan sebuah keindahan yang akan tercipta dalam sebuah karya seni. Nilai estetis dalam gerak tari merupakan kemampuan dari gerak tersebut untuk menciptakan sebuah pengalaman estetis. Setiap gerak tarian pasti mempunyai nilai estetis tersendiri yang dapat diulas dan dijelaskan secara cermat.

Hal yang perlu kalian pahami dalam mengamati karya seni tari adalah adanya faktor subjektif dan faktor objektif. Terciptanya estetis itu karena adanya penilaian perasaan dari pengamat. Estetis akan tercipta karena adanya proses relasi antara karya seni tari dan tanggapan orang yang mengamati.

Masing-masing gerak tari di setiap daerah memiliki keunikan tersendiri, yang mana tidak bisa lepas dari pengaruh budaya yang terdapat didaerah tersebut. Contohnya seperti tari Jawa yang gerak matanya selalu mengarah ke bawah, tari Bali yaitu matanya yang melotot menjadi ciri khas tersendiri, lalu ada juga tari saman dari Aceh yang memiliki gerakan sangat cepat sebagai ciri khasnya.

 

Senin, 21 September 2020

Materi Seni Tari

 RAGAM GERAK TARI TRADISI


A. Pengertian

    Ada beberapa definisi tentang tari menurut para ahli seni baik di luar negeri maupun di dalam negeri.

1. Bagong Kusudiardja

    Senima tari yang berasal dari Yogyakarta menayatakan bahwa tari adalah keindahan bentuk dari anggota badan manusia yang bergerak, berirama dan berjiwa harmonis.

2. Soedarsono

    Seniman tari Yogyakarta, mendefinisikan tari sebagai ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan dengan gerak ritmis yang indah.

3. Susan K. Langer

    Seorang seniman dari Amerika Serikat , menyatakan bahwa tari adalah gerak-gerak yang dibentuk secara ekspresif dan dapat dinikmati dengan rasa.

 

    Semua definisi tersebut mengandung makna bahwa gerak merupakan unsur utama tari, oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tari adalah susunan gerak anggota badan manusia yang ekspresif, indah, berirama, selaras dengan iringan musik serta dilengkapi dengan tata rias dan busana yang harmonis. 

    Seni tari Indonesia mengalami perjalanan yang sangat panjang karena usia tari bisa dikatakan seumuran dengan manusia itu sendiri. Tari-tarian diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi di lingkungan masyarakatnya disebut dengan tari tradisi. Tari tradisi bertumpu pada pola garapan tradisi yang kuat dan sudah mengalami perjalanan sejarah yang panjang. Tari Tradisi memiliki ciri kedaerahan yang unik dan kental, yang dapat dibedakan antara satu daerah dengan daerah lain.


B. Ragam Gerak Tari Tradisi

    Tari tradisi adalah tari yang memiliki aturan-aturan tertentu yang dapat dikatakan baku, dengan gerakan yang sudah ada sejak lama, berikut beberapa contoh ragam gerak tari;

  1. Tari Klasik

    Gerak tari yang sangat banyak memakai gerak murni serta gerak ekspresif  dan juga imitatif yang sudah distilir atau diperhalus. Tarian ini hidup dan berkembang dikalangan bangsawan yang hidup dilingkungan Istana. Tari ini mengalami kristalisasi nilai seni yang tinggi, memiliki patokan (paugeran) atau aturan tertentu dan kaidahnya sendiri. Jika meninggalkan dan menyimpang dari  paugeran diabaikan tarian dianggap salah. Tarian keistanaan atau disebut juga sebagai tari klasik sudah sangat mapan sehingga setiap pose tangan, kaki, badan maupun gerak mempunyai nama tersendiri. Berikut contoh nama gerak dalam tari klasik :

    a. Bentuk Jari Tangan

    Zulfa: RAGAM GERAK TARI  

     
    5 Macam Sikap Tangan Dalam Tari Jawa | IMAGINA 

    Zulfa: RAGAM GERAK TARI 

     

    b. Sikap Badan 

    * ula-ula ngadeg (tulang punggung tegak lurus)

    * enthong-enthong rata (tulang belikat datar)

    * iga kaunus (tulang rusuk diangkat)

    * pupu mlumah (perut dikempiskan)

    c. Gerak Kaki

    Tranjalan, tayungan, srisig, trisig, kicat, kengser, kapang-kapang, jomplangan dan genjotan

    d. Bentuk dan Gerak Tangan

    Kambeng, impur, ulap-ulap, ngenceng, nggurdha.

    Contoh tari tradisi keistanaan : Tari Bedhaya, Srimpi, Golek, Blantek, Kandangan, Sulintang, Legong, Panji Semirang, Pendet, Margapati dan Trunajaya.

  2. Tari Kerakyatan

    Gerak tari yang sangat banyak memakai imitatif serta ekspresif, gerakannya menirukan kegiatan serta emosi manusia sampai dapat menirukan perangai dari binatang. 

    Contoh tari kerakyatan : tari kanja, tari dowe dera, tari maengket, tari angguk, tari badui, tari ndolalak, tari ketuk tilu, tari gandrung.
  • Gerak Imitatif  : gerakan tari yang dilakukan sebagai sebuah hasil dari eksplorasi gerak menirukan gerak alam dan manusia.
  • Gerak Imajinatif : gerak rekayasa manusia dalam membentuk sebuah tarian, gerakan ini sudah terdiri dari gerak murni dan gerak maknawi.
    • gerak murni adalah gerak yang tidak mengandung arti tapi mengandung sebuah unsur keindahan

    • gerak maknawi adalah gerak tari yang sangat mengandung arti ataupun memiliki maksud tertentu.

      WIRAGA adalah kesempurnaan gerak dan pose, WIRAMA adalah ketepatan gerak dan musik, WIRASA adalah kesempurnaan ekspresi tari.

       

MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN sebagai PEMIMPIN PEMBELAJARAN - KONEKSI ANTAR MATERI

  1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki  pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusa...