ANALISIS FUNGSI dan ESTETIKA TARI TRADISI
A. Fungsi Tari
1. Fungsi Dasar Tari
Pada awalnya dungsi tari hanya dipisahkan menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut ;
- Upacara
Tari Upacara adalah tarian yang awalnya disakralkan pada zaman prasejarah dimulai dari lahirnya manusia sampai tahun 400 masehi. Usia tari ini sangat tua setua usia manusia itu sendirinya. Pada zaman prasejarah manusia hidup berkelompok segala aktivitasnya terikat oleh aturan kelompok. Kelompok masyarakat pada masa itu mengenal adanya tarian untuk kelahiran, kematian, perkawinan, pemujaan dan lain sebagainya. Sebagian dari masyarakat tari zaman primitif masih terdapat peninggalan tari-tarian yang terkait dengan adat, kepercayaan dan sosial.
Di beberapa daerah tarian tersebut masih sangat kental dan masih dijumpai meski sudah mengalami perubahan, salah satunya adalah daerah Bali dimana masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat. Tarian di Bali menjadi sarana upacara keagamaan, pemujaan atau persembahan dewa-dewa, selain Bali terdapat juga pula di Papua, Kalimantan, Sumatera, Sunda dan daerah pedalaman lainnya.
Zaman itu tari-tarian tersebut dianggap masyarakat masa kini amat sederhana dan belum memikirkan segi estetika karena yang dipentingkan adalah tujuan atau maksud tarian tersebut merupakan keinginan dan kehendak masyarakat sekitarnya. Fungsi tari di masa itu benar-benar suatu acara atau upacara, gerak tarinya sederhana, banyak pengulangan dan banyak menggunakan langkah kaki. Tarian yang hidup di zaman itu bersifat mistis, magis dan sakral, karakteristik tersebut tidak terlepas dari tujuannya yaitu mendapat sugesti untuk melaksanakan tujuan tertentu.
Beberapa contoh tari upacara yang hingga saat ini masih bertahan sebagai berikut ;
- Upacara Ritual Keagamaan
Tari Sang Hyang Dedari dari Bali
Tari Caci dari Nusa Tenggara Timur
- Upacara Adat
Tari Tarawangsa dari Jawa Barat
- Tari untuk menyambut tamu
Tari Gendhing Sriwijaya dari Palembang
Tari Lawung Ageng dari Yogyakarta
- Tari Pertunjukan atau Tontonan
Tari pertunjukan dianggap sebagai tarian yang benar-benar bernilai seni cukup tinggi dan sudah layak jual. Tarian yang masuk kelompok tari pertunjukan memang dibuat untuk diperlihatkan kepada penonton, meski awalnya ada yang berasal dari tari upacara atau tari sosial, baru pada perkembangan berikutnya tari-tarian itu bergeser fungsinya menjadi tontonan atau pertunjukan.
Keuntungan dari pergeseran fungsi tersebut adalah tarian menjadi lebih banyak dikenal orang dan ada regenerasi serta pelestarian terhadap tarian itu sendiri.
Kerugiannya adalah nilai kesakralan tari terutama pada tari upacara menjadi berkurang karena penonton sekedar melihat tanpa menghayati makna dan tujuan tari tersebut.
2. Fungsi Tari Masa Kini
- untuk industri wisata
- untuk festival/ lomba
- untuk pengisi acara/ selingan
- media belajar tata krama dan pembentuk kepribadian
- menumbuhkan rasa percaya diri
- media komunikasi antarbangsa
B. Estetika Tari Tradisi
Estetika berkaitan dengan keindahan, tidak mudah mengukur keindahan gerak tari karena tidak ada standardisasi untuk tari. Contohnya angkatan tari seseorang berbeda dengan orang lain mungkin berbeda nilaiya , hal ini kmebali lagi pada bentuk tangan si penari.
Etika dalam menyampaikan analisis tari merupakan pendekatan moral tentang apa yang baik dan apa yang kurang baik. Kritik yang disampaikan dengan etika yang baik artinya disampaikan dengan sopan dan objektif. Cermat dalam pemilihan kata sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman yang menyebabkan pihak sasaran analisis menjadi tersinggung atau sakit hati atas apa yang disampaikan kritikus. Pemilihan hendaknya disusun dengan kata-kata yang sopan memberi semangat sehingga seniman dapat berbesar hati dan terus berkarya dengan optimis, bukan menjatuhkan mental pihak yang menjadi sasaran analisis.
Analisis juga tidak boleh disampaikan dengan emosional, harus berpijak pada karya, bukan pembuatnya. Sebisa mungkin, kritikus memberi jalan keluar, solusi atau saran agar karya selanjutnya bisa lebih baik lagi.
SMK Tunas Bangsa Tawangsari, 05 April 2021