APRESIASI KARYA SENI RUPA
A. Hakikat Apresiasi Karya Seni Rupa
Apresiasi seni sebenarnya muncul dari pemehaman (pengetahuan) terhadap seluk beluk hasil karya seni serta kepekaan atau sensitivitas terhadap hal-hal yang berhubungan dengan keindahan (kepekaan estetik). Aparesiasi pada dasarnya adalah bentuk jalinan komunikasi antara pembuat karya seni (seniman) dengan penikmat seni (apresiator), dua aspek utama dalam apresiasi seni ialah;
1. Menilai
Berkaitan sejauh mana karya seni yang dihasilkan memiliki nilai estetik tertentu dan memenuhi kriteria atau prinsip seni seperti komposisi warna, bahan, tekstur , teknik yang digunakan, ide atau pesan yang ingin disampaikan.
2. Menghargai
Berkaitan dengan sejauh mana penikmat seni atau masyarakat memandang karya seni tersebut sebagai sesuatu yang penting, bernilai, berguna dan bermanfaat.
Ciri seseorang yang menapresiasi karya seni adalah ketika ia menghormati pembuat/ pencipta karya tersebut serta merawat dan menjaga hasil karya seni tersebut.
Dalam mengapresiasi karya seni, yang menjadi sasaran tidak hanya wujud karya semata, tetapi juga nilai yang dikandungnya. Nilai adalah sesuatu yang paling berharga pada karya seni.
B. Hal yang diperlukan dalam apresiasi hasil karya seni rupa
1. Pengetahuan tentang seni rupa
- sejarah seni rupa terkait hubungannya dengan karya saat ini dengan karya yang sudah ada sebelumnya sehingga dapat menemukan runtutan kehadirannya apakah ada pengaruh dari seni rupa sebelumnya yang murni diciptakan oleh senimannya
- teknik dan gaya yang dimiliki oleh seniman dalam membuat karya
- bahan dan bahasa rupa untuk melakukan analisis visual karya seni rupa
2. Kegemaran terhadap karya seni rupa
Dalam mengapresiasi sebuah karya seni rupa, seseorang juga harus memiliki kegeemaran atau minat terhadap seni rupa. Minat atau kegemaran terhadap seni tentu tidak datang dengan sendirinya atau tiba-tiba. Minat dan kegemaran terhadap seni muncul karena proses belajar, baik yang terjai secara alamiah melalui pengalaman-pengalaman maupun yang dibentuk melalui pendidikan. Minat dan Kegemaran ini merupakan suatu modal awal untuk dapat memberi apresiasi.
3. Kepekaan Estetis
4. Menghargai karya seni rupa
C. Pendekatan Apresiasi Karya Seni Rupa
1. Pendekatan Kritik
Kritik Jurnalistik : kritik ini disampaikan melalui media massa seperti korana dan majalah. Cara ini biasa dilakukan ketika ada kegiatan pameran atau pagelaran dan kritikus diwawancarai saat pameran kemudian hasil wawancaranya dimual dikoran atau majalah. Jenis kritik ini masih tahap empati yaitu hanya menilai baik dan buruknya saja berdasarkan pengamatan sepintas sehingga ulasannya singkat atau tidak mendalam namun padat.
![]() |
| Kritik Jurnalistik dengan media massa koran |
Kritik Pedagogik : kritik ini biasa digunakan dikalangan akademis antara guru dengan peserta didik dan disen dengan mahasiswa seni rupa. Kritik yang disampaikan bersifat mendidik dengan tujuan meningkatkan kematangan teknik dan estetik peserta didik. Ulasan yang disampaikan luwes, tidak keras, tetapi bersifat mendorong semangat peserta didik untuk bekerja dan belajar meningkatkan prestasinya.
| Kritik pedagogik dilingkungan sekolah |
Kritik Ilmiah : Kritik ini berusaha menampilkan analisis ilmiah dan mendalam yang dilengkapi dengan data-data yang lengkap serta hasil evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kritik ini sebagai apresiasi berusaha menilai positif bagi perupa atau seniman dalam memperbaiki dan menuangkan gagasan-gagasannya kedalam karya seni rupa di masa yang akan datang.
Kritik Populer : Kritik ini tidak jauh berbeda dengan kritik jurnalis, namun kritik ini dilakukan secara spontan oleh para kritikus, pengamat bahkan masyarakat setelah melihat sebuah karya seni. Oleh karena itu hasil kritikannya pun berbeda-beda. Jenis kritik ini banyak diterapkan misal dalam berbagai kontes di televisi yang kualitas penilaian karya seni ditentukan melalui instrumen-instrumen, seperti polling SMS atau juri vote lock.
b. Gaya Kritik Seni
Menurut Sudarmaji kritik sebagai apresiasi snei dapat dilakukan secara kontekstual, intrinsik dan komparatif.
Kontekstual : apresiasi tidak hanya berpedoman pada unsur-unsur seni rupa saja tapi juga memperhatikan tema atau norma yang berlaku di masyarakat hubungannya dengan moral, psikologi, sosiologi dan religi artinya pangamat atau kritikus ketika melakukan penilaian terhadap peserta didik juga memperhatikan latar belakang sosial para peserta didik. Misalkan terdapat karya seorang peserta didik yang lebih menonjol dari karya peserta didik yang lain, pengamat/ kritikus perlu memperhatikan latar belakang peserta didik tersebut, mungkin saja ia berasal dari keluarga pelukis atau sehingga kebiasaan dan bakat seni nya sudah terpupuk sejak kecil.
Intrinsik : apresiasi dilakukan dengan menonjolkan aspek-aspek fisik karya, gaya kritik ini murni untuk kepentingan keindahan. Pembahasan atau penilaian difokuskan pada nilai keindahan yang dihasilkan seperti kemahiran dalam menggunakan alat dan bahan, serta menyusun elemen-elemen estetik.
Komparatif : apresiasi dilakukan dengan cara membandingkan karya seorang seniman dengan seniman lain.
2. Pendekatan Analitik
Apresiasi ini dilakukan dengan cara menganalisis berdasarkan sudut pandang dan beberapa tahapan ;
a. mencari tahu informasi seputar seniman (identitas, latar belakang karya, keterampilan teknik, bahan yang digunakan, konsep penciptaan dan tema yang ditampilkan), informasi tersebut dapat digunakan sebagai deskripsi awal dari analisis yang akan diberikan oleh ktitikus/ pengamat.
b. menemukan kualitas estetika dari karya seniman.
c. Melakukan interpretasi yang bertujuan mengungkapkan makna yang terkandung pada karya yang dihasilkan sneiman baik secara konotasi maupun denotasi.
Selain pendekatan tersebut, adapula bebrapa pendekatan yang digunakna oleh para kritikus dalam mengapresiasi karya snei patung ;
a. Pendekatan Aplikatif dipakai untuk mengetahui keindahan pada suatu karya seni rupa secara langsung. Caranya adalah dengan melakukan kunjungan langsung ke studio, rumah seniman atau lokasi pameran. Tujuannya dari kunjunagn tersebut untuk mengetahui proses berkarya dan merasakn berbagai pertimbangan teknik yang digunakan oleh sneiman dalam proses berkarya.
b. Pendekatan Sejarah dilakukan dengan cara menelusuri perjalanan berkesenian dari seniman. Kritikus mengamati dan mendokumentasikan karya-karya yang telah dihasilkan sang seniman, tempat produksi dan waktu pembuatannya sebagai referensi. Dengan cara seperti ini pengamat atau kritikus dapat memiliki pengetahuan utuh tentang konsistensi gaya berkesenian, tema atau gagasan yang menjadi perhatian, atau ciri-ciri khas dari teknik yang ditampilkan sang seniman. Selanjutnya, catatan-catatan tersebut dibandingkan dengan karya seniman-seniman pendahulunya.
c. Pendekatan Problematik ini menyoroti tentang permasalahan yang dihadapi seniman dalam proses berkesenian baik dari segi teknik, bahan yang digunakan ataupun kondisi-kondisi lain seperti cuaca dan sebagainya juga mnyoroti bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi itu.
C. Membuat Kritik Seni Rupa
1. Deskripsi
2. Analisis Formal
3. Interpretasi
4. Evaluasi
SMK Tunas Bangsa Tawangsari, 25 Januari 2021

