Dalam pembelajaran ini CGP (Calon Guru Penggerak) diminta untuk mengkaitkan materi antara Pembelajaran Sosial Emosional dengan materi Pembelajaran Berdiferensiasi.
Sebagai seoraang pendidik tentunya sering kali dihadapkan dengan situasi yang harus melakukan banyak sekali pekerjaan yang membuat kita kehilangan konsentrasi. Kondisi dimana kita sedang merasa tertekan entah karena tuntutan yang terlalu besar atau terlalu banyak, tidak jarang kita menjadi stress.
Selain pendidik, murid pun uga mengalami hal yang sama, murid juga pernah berada dalam situasi yang penuh dengan berbagai tantangan untuk dapat menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangan dirinya. Selain tugas-tugas akademik, murid juga harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan fisik, hubungan dengan teman sebaya, mencapai kemandirian dan tanggungjawab atas dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat dan juga menyiapkan rencana studi/ karier untuk masa depannya.
Solusi untuk mengahadapi berbagai situasi dan tantangan yang kompleks ini baik pendidik maupun murid membutuhkan berbagai bekal pengetahuan, sikap dan keterampilan agar dapat mengelola kehidupan personal maupun sosialnya. Pembelajaran di sekolah harus dapat mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, baik aspek kognitif, fisik, sosial dan emosional.
Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) adalah hal yang sangat penting untuk diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Daalam pembelajaran ini berisi tentang keterampilan yang dibutuhkan murid untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya juga mengajarkan murid untuk menjadi pribadi yang berkarakter baik. PSE mencoba menyeimbangkan individu dan mengembangkan kompetensi personal yang dibutuhkan untuk dapat menjadi sukses.
Bagaimana kita sebagai pendidik dapat menggabungkan itu semua dalam melakukan pembelajarn di kelas sehingga murid dapat belajar menempatkan diri secara efektif dalam konteks lingkungan dan dunia. Pembelajaran Sosial-Emosional adalah tantangan pengalaman apa yang akan dialami murid, apa yang dipelajari murid dan bagaimana pendidik mengajar.
Menurut Ki Hadjar Dewantara, pengajaran budi pekerti tidak lain adalah menyokong perkembangan hidup anak-anak lahir dan batin, dari sifat kodrati menuju arah peradaban dalam sifatnya yang umum. Pengajaran ini berlangsung sejak anak-anak hingga dewasa dengan memperhatikan tingkatan perkembangan jiwa mereka (Ki Hadjar Dewantara dalam Mustofa, 2011).
Sebagai pendidik kita dapat merancang suasana, bagaimana sekolah dan kelasnya, bagaimana waktu mengajarnya, hubungan dengan komunitas sekolah dan keluaraga dan yang lainnya sebagai tempat pertukaran pengetahuan, pengetahuan tentang dunia, pengetshusn tentsng diri sendiri dan pengetahuan tentang orang lain yang berinteraksi dengan kita. Pengalaman-pengalaman tersebut membantu murid memahami dirinya sendiri dan orang lain. dengan demikian kita berbicara tentang anak secara utuh.
Dalam Pembelajaran sosial-emosional sistem pembelajarannya dilakukan secara kolaboratif seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pegetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial-emosional.
Pembelajaran Sosial-Emosional menurut kerangka CASEL bertujuan utnuk mengembangkan 5 Kompetensi Sosial (KSE) diantaranya adalah :
1. Memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (Kesadaran Diri)
2. Menetapkan dan mencapai tujuan positif (Manajemen diri)
3. Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (Kesadaran Sosial)
4. Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (Keterampilan Berelasi)
5. Membuat Keputusan yang Bertanggungjawab
5 Kompetensi Sosial Emosional (KSE) diantaranya adalah :
1. Kesadaran Diri
2. Pengelolaan Diri
3. Kesadaran Sosial
4. Keterampilan Berelasi
5. Membuat Keputusan yang Bertanggungjawab
Implementasi Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) dapat dilakukan dengan 4 cara yaitu :
1. Mengajarkan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) secara spesifik dan eksplisit
2. Mengintegrasikan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) ke dalam praktik mengajar guru dan gaya ibteraksi dengan murid
3. Mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah terhadap murid
4. Mempengaruhi pola pikir murid tentang persepsi diri orang lain dan lingkungan
Kesadaran Diri penuh (mindfulness) adalah sebagai dasar untuk mengembangkan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) untuk mengembangkan Kompetensi Sosial Emosional (KSE). Kesadaran penuh (mindfulness) menurut Kabat-Zinn (dalam Hawkins, 2017, hal. 15) dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang, dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan. Secara saintifik, latihan mindfulness yang konsisten akan memperkuat hubungan sel-sel saraf (neuron) otak yang berhubungan dengan fokus, konsentrasi dan kesadaran.
KONEKSI ANTAR MATERI
Keterkaitan materi pembelajaran sosial emosional dengan pembelajaran berdiferensiasi
WELL BEING
Anak belajar sat hati mereka terbuka, terhubung dengan lingkungan sekitar serta adanya tujuan. Belajar adalah Anugerah. Melalui pembelajaran sosial-emosional, kita menciptakan kondisi yang mengizinkan semua anak mengakses anugerah tersebut. Saat Kompetensi Sosial-Emosional (KSE) murid berkembang, maka aspek akademik merekapun berkembang. Hal tersebut selaras dengan pembelajaran berdiferensiasi yaitu serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat pendidik berorientasi kepada kebutuhan murid. Bagaiman guru menciptakan lingkungan belajara yang "mengundang" murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya. Dukungan di sini bisa berupa kesiapan sosial emosional mereka untuk mmengikuti pembelajaran, serta bagaimana pednidik merespon atau menanggapi kebutuhan belajar murid.
Sebagai pendidik, kita tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Dari tugas-tugas tersebut memicu rasa keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat) dan jika tugas tersbeut memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar), ketiga komponen tersebut disebut dengan Kebutuhan Belajar Murid. Jika kebutuhan murid terpenuhi dan kesiapan sosial-emosionalnya tidak diabaikan, maka well being akan tercipta di dalam kelas antara guru, murid dan sekolah.
Well Being adalah kondisi dimana individu memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakkna serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya.
Well Being yang optimum memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk :
- kesehatan fisik dan mental yang lebih baik
- memiliki ketangguhan (daya lenting/ resiliensi)dalam menghadapi stress
- terlibat dalam perilaku sosial yang lebih bertanggungjawab
- mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi
![]() |
| Koneksi Antar Materi modul 2.2.a.9 |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar