Kamis, 21 April 2022

MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN sebagai PEMIMPIN PEMBELAJARAN - KONEKSI ANTAR MATERI

 


1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?




Tujuan Pendidikan Ki Hadjar Dewantara adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baiksebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Ki Hadjar Dewantara  juga mengatakan  “Pendidikan dan Pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia,  baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas- luasnya “.

Pendidikan adalah tempat persemaian  benih – benih kebudayaan dalam masyarakat, KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia  yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai- nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan .

Pada tahun 1922, Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Nasional Tamansiswa (Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa). Beliau pun mencetuskan asas-asas pendidikan yang kita kenal sebagai Patrap Triloka. Patrap Triloka terdiri atas tiga semboyan, yaitu Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani. Semboyan dalam dunia pendidikan tersebut diterjemahkan menjadi “di depan memberi teladan”, “di tengah membangun motivasi”, dan “di belakang memberikan dukungan”

Penjelasan lengkap mengenai Filosofi  Pratap Triloka berisi

    1. Ing Ngarso Sung Tulodo yang berarti bahwa di depan dapat memberikan teladan yang baik bagi murid-muridnya, rekan sejawat maupun anggota masyarakat. Oleh karena itu dalam mengambil suatu keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran guru harus terlebih dahulu menganalisis dengan sungguh-sungguh karena segala keputusan yang diambil akan menjadi contoh bagi murid – murid, rekan sejawat dan anggota masyarakat. 
    2. Ing Madya Mangun Karsa yang artinya ditengah dapat membangun karsa atau kemampuan atau semangat. Oleh karena itu guru harus mampu mengambil keputusan-keputusan yang berpihak kepada murid dan dapat membangkitkan Karsa semangat dan kemampuan murid-muridnya.
    3. Tut Wuri Handayani yang berarti di belakang dapat memberikan dorongan semangat pada murid agar dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya ini berarti bahwa guru harus mampu mengambil suatu keputusan terkait proses pembelajaran dan kegiatan sekolah yang dapat mendorong murid agar dapat berkembang sesuai dengan minat, profil dan kesiapan belajarnya 

Harus diakui, ketiga nilai tersebut berpengaruh terhadap pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Nilai Ing ngarsa sung tuladha, memberikan pengaruh nyata terhadap peran guru sebagai teladan di garis depan. Selaras dengan nilai ini, seorang guru hendaknya menjadi teladan dalam menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Pengambilan keputusan yang dilakukan tentu dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Guru juga bisa memberikan dukungan berupa ide, gagasan, dan masukan dalam proses pengambilan keputusan. Selain itu, juga bisa berupa pemberian opsi trilemma berupa ide kreatif dalam pengambilan keputusan.

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip     yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai  berkaitan erat dengan peran yang sudah kita pelajari di bagian paradigma dan visi Guru Penggerak  dan refleksi Filosofi Ki Hadjar Dewantara Nilai ini yang diharapkan terus tumbuh dan dilestarikan dalam diri saya dan seorang Guru Penggerak. Kelima nilai ini saling mendukung satu dengan lainnya, dan tentunya diharapkan menjadi pedoman berperilaku untuk seorang Guru Penggerak dan dapat menjadi inspirasi kepada guru lain dalam sebuah komunitas.

Seorang guru memiliki nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya sebagai seorang pendidik dan pemimpin pembelajaran. Nilai-nilai dalam diri kita sebagai guru besar pengaruhnya terhadap pengambilan suatu keputusan. Nilai inovatif dalam diri guru akan menjadi dasar yang baik dalam menentukan berbagai opsi pengambilan keputusan yang dilakukan. Nilai kolaboratif akan memengaruhi kita dalam menentukan siapa saja yang berperan dan terlibat dalam pengambilan keputusan. pada nilai mandiri, akan menjadi dasar bagi seorang guru untuk menentukan inisiatif berdasarkan prinsip pengambilan keputusan. Nilai ini juga akan menjadikan seorang guru bisa berpikir cepat dan tepat dalam menghadapi situasi dilema etika. Nilai dalam guru ini akan memengaruhi sikap dalam menentukan prinsip-prinsip pengambilan keputusan yang terbaik dengan mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi banyak pihak terutama murid.

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri seorang guru sangatlah berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang diambilnya dalam suatu pengambilan keputusan. Ada tiga prinsip pengambilan keputusan yang pertama adalah Rule-based Thinking atau pemikiran berbasis peraturan yang kedua End-based Thingking atau pemikiran berbasis hasil akhir dan yang ketiga adalah Care-based Thingking atau pemikiran berbasis rasa Peduli. 

3. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakuka pada materi pengambilan keputusan berkaitan   dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan  proses pembelajran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil.   Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri   kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang   telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.



Dalam proses pengambilan keputusan, selain melakukan pengujian paradigma, prinsip resolusi, serta menjalankan langkah-langkah pengambilan keputusan, perlu juga ditopang dengan keterampilan lain. Keterampilan yang telah dipelajari pada modul-modul sebelumnya akan sangat membantu, salah satunya adalah keterampilan coaching. 

Dengan tehnik coaching, seorang guru akan menjadi coach bagi dirinya sendiri ataupun orang lain dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil, dan melihat berbagai opsi solusi sehingga dapat mengambil keputusan dengan tepat. Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu saya untuk dapat membuat evaluasi dan refleksi tentang praktik pengambilan keputusan yang telah saya ambil. 

Apakah keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid dan kepentingan banyak orang atau belum. Pada proses coaching, langkah pengujian pun dapat diketahui secara jelas. Kita sebagai Coach dalam hal ini sebagai pengambil keputusan, dapat meminta penjelasan kepada coachee yang terlibat dalam permasalahan agar bisa menjadi pertimbangan bagi coachee untuk mengambil keputusan dengan cara memberikan pertanyaan pemantik yang dapat mengarahkan coachee untuk menemukan potensinya, dan melihat  berbagai opsi sehingga dapat mengambil keputusan yang tepat.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Pada saat pengambilan keputusan dilakukan, seorang guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional agar proses pengambilan keputusan dilakukan secara sadar penuh, kesadaran atas  berbagai pilihan dan dampak yang ada. Ketika seorang guru telah menguasai pengetahuan dan keterampilan  serta sikap yang baik mengenai aspek sosial dan emosional, maka keputusan yang diambil memiliki dampak dan tujuan yang positif, keputusan yang diambil juga dapat dipertanggungjawabkan. Kesadaran akan aspek sosial emosional disaat mengambil keputusan juga diperlukan oleh seorang guru terutama saat dihadapkan dengan kasus tertentu yang menuntutnya untuk mengambil suatu keputusan, guru dapat mengarahkan diri untuk melakukan Teknik STOP, yang dilakukan adalah berhenti, kemudian menarik nafas panjang, hingga memberikan waktu untuk memahami dengan baik kasus yang dihadapi. Guru juga akan mencari tau apa yang dirasakan murid dan mau mendengarkan dengan penuh perhatian (focus). Respon guru yang berkesadaran penuh ini lah yang akan mempengaruhi putusan yang diambil.

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Seorang guru yang telah memiliki nilai-nilai mandiri, inovatif kolaboratif, reflektif dan berpihak kepada murid akan mampu mengambil suatu keputusan yang juga berpihak pada murid yang sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan dapat dipertanggung jawabkan, dalam menjalankan perannya seorang guru sering dihadapkan dalam situasi yang meragukan dan dihadapkan dalam dilema etika ataupun bujukan moral. Melalui 9 langkah pengujian keputusan, seorang guru akan menerapkan nilai-nilai kebajikan yang ada dalam dirinya terutama pada proses uji intuisi yang berkaitan dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai yang dianut.

Dalam studi kasus pengambilan keputusan, seorang guru harus memahami terlebih dahulu perbedaan antara bujukan moral dan dilema etika. Seorang guru harus memastikan terlebih dahulu, apakah studi kasus yang di dalamnya adalah benar vs benar atau benar vs salah. Jika studi kasus yang dianalisis adalah benar vs benar, maka guru harus menetapkan langkah pengambilan keputusan. Hal ini karena bisa dipastikan kasus tersebut termasuk dilema etika. Sedangkan apabila kasus tersebut benar vs salah berarti kasus tersebut merupakan bujukan moral. Dalam hal ini,pendidik harus dapat tegas dalam mengambil keputusan.

 6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada             terciptanya lingkungan yang posistif, kondusif, aman dan nyaman.

Sebuah pengambilan keputusan yang baik dan tepat tentunya harus dilakukan secara bertahap dan menganalisis terlebih dahulu berbagai aspek yang pertama yang harus dipertimbangkan adalah empat paradigma Dilema etika. Kita harus melihat terlebih dahulu paradigma dilema etika apa yang sedang terjadi? Apakah paradigma Dilema etika individu melawan masyarakat, rasa keadilan melawan rasa kasihan, kebenaran melawan kesetiaan, atau jangka pendek melawan jangka Panjang. Kita juga harus melihat prinsip pengambilan keputusan yang paling tepat. Apakah Rule-based Thingking, Apakah End-based Thingking dan apakah Care-based Thingking. Selanjutnya keputusan tersebut haruslah diambil dengan menggunakan langkah-langkah pengambilan keputusan.

Adapun 9 langkah-langkah yang dapat dilakukan :

      • Mengenali terlebih dahulu nilai-nilai yang saling bertentangan.
      • Menentukan pihak-pihak yang terlibat 
      • Mengumpulkan fakta-fakta secara lengkap dan detail
      • Melakukan pengujian benar atau salah 
      • Melakukan pengujian benar melawan benar 
      • Melakukan prinsip revolusi 
      • Mencari atau menginvestigasi opsi trilemma 
      • Membuat keputusan 
      • Melakukan refleksi dan mengambil pelajaran dari suatu keputusan yang telah diambil.
7. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang
    sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus
    kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma
    di lingkungan Anda?

Kesulitan muncul karena terjadinya perubahan paradigma lama dan budaya sekolah yang sudah dilakukan sejak dahulu. Diantaranya adalah permasalahan yang kadang memaksa guru untuk memilih pilihan yang kurang tepat dan tidak berpihak kepada murid. Lalu terkadang keputusan yang diambil belum menggunakan Analisa terhadap permasalahan yang dihadapi sehingga muncul banyak kendala-kendala dalam proses pelaksanaan keputusan. di lingkungan saya yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika, bagaimana kita sebagai pengambil keputusan dapat melihat permasalahan dengan obyektif dan memiliki dampak positif bagi banyak orang.

8. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan
    pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?
Keputusan yang diambil pasti akan memiliki pengaruh pada pengajaran, apabila keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid dalam hal ini tentang pembelajaran yang dilakukan yang sudah sesuai dengan kebutuhan murid, maka hal ini akan dapat memerdekakan murid dalam belajar dan pada akhirnya murid dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya.

9Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat
    mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Keputusan yang diambil tentu saja dapat mempengaruhi masa sekarang dan masa depan murid. Pengambilan keputusan yang tepat akan berdampak pada perubahan murid ke depannya. Bisa dikatakan bahwa masa depan murid bisa saja tergantung dari keputusan yang diambil guru saat ini. Contoh sederhana pada saat kita membuat keputusan untuk tidak menaikkan atau menambah 10 poin murid karena prinsip atau pendirian seorang guru. Bisa jadi saat itu kita menjadi pemutus harapannya untuk dapat masuk ke universitas impiannya dan menjadi lebih baik di masa depan. Itu adalah contoh kasus yang ada dalam salah satu materi PGP yang didapatkan dari wawancara dengan rekan sejawat dalam kegiatan aksi nyata, namun kasus tersebut juga sering kita temui di lapangan. Oleh karena itu, untuk bisa menghadirkan masa depan murid yang lebih baik, guru juga perlu mempertimbangkan bentuk diferensiasi dan sosial emosional murid dalam pembelajaran. Tujuannya agar keputusan pembelajaran yang kita lakukan sesuai kebutuhan mereka saat ini dan masa depan. Dalam hal ini guru harus memberikan bimbingan agar murid bisa mengambil keputusan terbaik bagi kehidupannya di masa kini dan masa depan.

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan
       keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan uraian di atas adalah, bahwa kita harus mempelajari pengambilan keputusan dengan tepat dalam pengajaran yang memerdekakan anak demi kebaikan mereka di masa yang akan datang. Oleh karena itu, untuk bisa menghadirkan masa depan murid yang lebih baik, guru juga perlu mempertimbangkan bentuk diferensiasi dan sosial emosional murid dalam pengambilan keputusan. Tujuannya agar keputusan pengajaran yang kita lakukan sesuai kebutuhan mereka saat ini dan masa depan.

Selain itu, sebagai seorang guru sudah seharusnya mengubah mindset, bahwa pengajaran yang dilakukan adalah bentuk dari coaching. Dalam hal ini guru harus memberikan bimbingan agar murid bisa mengambil keputusan terbaik bagi kehidupannya di masa kini dan masa depan. Dengan demikian, pengambilan keputusan dalam pengajaran yang memerdekakan murid haruslah benar-benar berpusat pada murid. Hal ini sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Minggu, 17 April 2022

Jurnal Refleksi Minggu ke-17 "Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran"

 


Model 4 F (Fact, Feelings, Findings, Future)

Fact

Masuk di modul 3.1 diawali dengan pretest yang cukup sulit menurut saya dengan istilah-istilah asing yag belum pernah saya temui sebelumnya, dengan soal cerita yang panjang, butuh fokus untuk memahami setiap makna dalam soalnya.Dan saya juga lemah dalam memahami soal yang panjang akhirnyapun saya mendapatkan nilai yang kurang memuaskan.

Hari berikutnya saya masuk pada sesi eksplorasi konsep mandiri. Perlahan saya belajar memahami setiap amteri yang disajikan. Dalam materi ini saya benar-benar dilatih untuk menjadi seorang pemimpin disekolah yang mengahadapi banyak kasus yang cukup rumit untuk diputuskan. Materi demi materi saya serap dengan sedikit kemampuan saya. Saya berharap hari berikutnya saya akan lebih memahami lagi di materi ini seiring alur belajar merdeka yang akan saya lalui.


Feeling

Seperti biasanya saat pretest saya memang sedikit santai dengan nilai yang saya peroleh karena menurut saya pretest itu seperti memberikan stimulus bagi saya untuk menghadapi materi yang akan diberikan. Jadi dalam pretest itu berisi gambaran materi yang akan disampaikan dalam modul tersebut itu nanti, rasa penasaran pun semakain muncul saat mulai mempelajari materi ini saya merasa kok materi semakin berat, itu karena saya tidak paham diawak sehingga kesan saya seperti itu. Namun dalam hati saya bertanya-tanya untuk apa ya pembelajaarn di modul ini, kira-kira akan membekali apa nantinya. Dan bingun juga ketika harus menganalisis kasus step by step.


Findings

Setelah Eksplorasi pembelajaarn masuk ke Ruang Kolaborasi, dan saya mulai menemukan sedikit petunjuk/ pencerahan terkait materi pengambilan keputusan sebagi pemimpin pembelajaran, dengan berbagai paradigma, prinsip dan langkah dalam mengmbil keputusan. Dengan membaca dan mencermati berbagai kasus, ternyata setiap orang termasuk saya sebagi guru sering mengalami dilema etika dan bujukan moral seperti yang ada dalam materi. Jadi disini memang kami CGP disiapkan mentalnya ketika nanti menghadapi situasi seperti ini.


Future

Saya akan belajar semaksimal mungkin untuk memahami materi ini, agar saat saya menemukan kasus-kasus yang harus saya putuskan , saya sudah siap untuk mengambil keputusan yang bertanggungjawab dan Bijaksana. Amiin, Bismillah ,,,


Selasa, 12 April 2022

Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara





POTRET PENDIDIKAN INDONESIA ZAMAN KOLONIAL HINGGA KINI



Asas Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan. Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut KHD (2009),  pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”.

Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.

Dasar-Dasar Pendidikan

Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: "menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat  menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan  tumbuhnya kekuatan kodrat anak”

Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani.  Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal.

Dalam proses ‘menuntun’ anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

KHD juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka namun tetap waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, “waspadalah, carilah barang-barang yang bermanfaat untuk kita, yang dapat menambah kekayaan kita dalam hal kultur lahir atau batin. Jangan hanya meniru. Hendaknya barang baru tersebut dilaraskan lebih dahulu”. KHD menggunakan ‘barang-barang’ sebagai simbol dari tersedianya hal-hal yang dapat kita tiru, namun selalu menjadi pertimbangan bahwa Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.


Kodrat Alam dan Kodrat Zaman

KHD menjelaskan bahwa dasar Pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”

KHD mengelaborasi Pendidikan terkait kodrat alam dan kodrat zaman sebagai berikut

Dalam melakukan pembaharuan yang terpadu, hendaknya selalu diingat bahwa segala kepentingan anak-anak didik, baik mengenai hidup diri pribadinya maupun hidup kemasyarakatannya, jangan sampai meninggalkan segala kepentingan yang berhubungan dengan kodrat keadaan, baik pada alam maupun zaman. Sementara itu, segala bentuk, isi dan wirama (yakni cara mewujudkannya) hidup dan penghidupannya seperti demikian, hendaknya selalu disesuaikan dengan dasar-dasar dan asas-asas hidup kebangsaan yang bernilai dan tidak bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan” (Ki Hadjar Dewantara, 2009, hal. 21)

KHD hendak mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya melihat kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman. Bila melihat dari kodrat zaman saat ini, pendidikan global menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki Keterampilan Abad 21 dengan melihat kodrat anak Indonesia sesungguhnya. KHD mengingatkan juga bahwa pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal budaya Indonesia. Oleh sebab itu, isi dan irama yang dimaksudkan oleh KHD adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri.


 Budi Pekerti


Menurut KHD, budi pekerti, atau watak atau karakter merupakan perpaduan antara gerak pikiran, perasaan dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Budi pekerti juga dapat diartikan sebagai perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor). Sedih merupakan perpaduan harmonis antara cipta dan karsa demikian pula Bahagia.

Lebih lanjut KHD menjelaskan, keluarga menjadi tempat yang utama dan paling baik untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak. Keluarga merupakan tempat bersemainya pendidikan yang sempurna bagi anak untuk melatih kecerdasan budi-pekerti (pembentukan watak individual). Keluarga juga menjadi ruang untuk mempersiapkan hidup anak dalam bermasyarakat dibanding dengan pusat pendidikan lainnya.

Alam keluarga menjadi ruang bagi anak untuk mendapatkan teladan, tuntunan, pengajaran dari orang tua. Keluarga juga dapat menjadi tempat untuk berinteraksi sosial antara kakak dan adik sehingga kemandirian dapat tercipta karena anak-anak saling belajar antar satu dengan yang lain dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Oleh sebab itu, Peran orang tua sebagai guru, penuntun dan pemberi teladan menjadi sangat penting dalam pertumbuhan karakter baik anak.


Dasar-Dasar Pendidikan






Jumat, 18 Maret 2022

2.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pembelajaran Sosial dan Emosional

Dalam pembelajaran ini CGP (Calon Guru Penggerak) diminta untuk mengkaitkan materi antara Pembelajaran Sosial Emosional dengan materi Pembelajaran Berdiferensiasi.


Sebagai seoraang pendidik tentunya sering kali dihadapkan dengan situasi yang harus melakukan banyak sekali pekerjaan yang membuat kita kehilangan konsentrasi. Kondisi dimana kita sedang merasa tertekan entah karena tuntutan yang terlalu besar atau terlalu banyak, tidak jarang kita menjadi stress.

Selain pendidik, murid pun uga mengalami hal yang sama, murid juga pernah berada dalam situasi yang penuh dengan berbagai tantangan untuk dapat menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangan dirinya. Selain tugas-tugas akademik, murid juga harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan fisik, hubungan dengan teman sebaya, mencapai kemandirian dan tanggungjawab atas dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakat dan juga menyiapkan rencana studi/ karier untuk masa depannya.

Solusi untuk mengahadapi berbagai situasi dan tantangan yang kompleks ini baik pendidik maupun murid membutuhkan berbagai bekal pengetahuan, sikap dan keterampilan agar dapat mengelola kehidupan personal maupun sosialnya. Pembelajaran di sekolah harus dapat mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, baik aspek kognitif, fisik, sosial dan emosional.

Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) adalah hal yang sangat penting untuk diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Daalam pembelajaran ini berisi tentang keterampilan yang dibutuhkan murid untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya juga mengajarkan murid untuk menjadi pribadi yang berkarakter baik. PSE mencoba menyeimbangkan individu dan mengembangkan kompetensi personal yang dibutuhkan untuk dapat menjadi sukses.

Bagaimana kita sebagai pendidik dapat menggabungkan itu semua dalam melakukan pembelajarn di kelas sehingga murid dapat belajar menempatkan diri secara efektif dalam konteks lingkungan dan dunia. Pembelajaran Sosial-Emosional adalah tantangan pengalaman apa yang akan dialami murid, apa yang dipelajari murid dan bagaimana pendidik mengajar.


Menurut Ki Hadjar Dewantara, pengajaran budi pekerti tidak lain adalah menyokong perkembangan hidup anak-anak lahir dan batin, dari sifat kodrati menuju arah peradaban dalam sifatnya yang umum. Pengajaran ini berlangsung sejak anak-anak hingga dewasa dengan memperhatikan tingkatan perkembangan jiwa mereka (Ki Hadjar Dewantara dalam Mustofa, 2011).


Sebagai pendidik kita dapat merancang suasana, bagaimana sekolah dan kelasnya, bagaimana waktu mengajarnya, hubungan dengan komunitas sekolah dan keluaraga dan yang lainnya sebagai tempat pertukaran pengetahuan, pengetahuan tentang dunia, pengetshusn tentsng diri sendiri dan pengetahuan tentang orang lain yang berinteraksi dengan kita. Pengalaman-pengalaman tersebut membantu murid memahami dirinya sendiri dan orang lain. dengan demikian kita berbicara tentang anak secara utuh.

Dalam Pembelajaran sosial-emosional sistem pembelajarannya dilakukan secara kolaboratif seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pegetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial-emosional.


Pembelajaran Sosial-Emosional menurut kerangka CASEL bertujuan utnuk mengembangkan 5 Kompetensi Sosial (KSE) diantaranya adalah :

1. Memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi (Kesadaran Diri)

2. Menetapkan dan mencapai tujuan positif (Manajemen diri)

3. Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (Kesadaran Sosial)

4. Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (Keterampilan Berelasi)

5. Membuat Keputusan yang Bertanggungjawab


5 Kompetensi Sosial Emosional (KSE) diantaranya adalah :

1. Kesadaran Diri

2. Pengelolaan Diri

3. Kesadaran Sosial

4. Keterampilan Berelasi

5. Membuat Keputusan yang Bertanggungjawab


Implementasi Pembelajaran Sosial-Emosional (PSE) dapat dilakukan dengan 4 cara yaitu :

1. Mengajarkan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) secara spesifik dan eksplisit

2. Mengintegrasikan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) ke dalam praktik mengajar guru dan gaya ibteraksi dengan murid 

3. Mengubah kebijakan dan ekspektasi sekolah terhadap murid

4. Mempengaruhi pola pikir murid tentang persepsi diri orang lain dan lingkungan


Kesadaran Diri penuh (mindfulness) adalah sebagai dasar untuk mengembangkan Kompetensi Sosial Emosional (KSE) untuk mengembangkan Kompetensi Sosial Emosional (KSE). Kesadaran penuh (mindfulness) menurut Kabat-Zinn (dalam Hawkins, 2017, hal. 15) dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang, dilandasi rasa ingin tahu dan kebaikan. Secara saintifik, latihan mindfulness yang konsisten akan memperkuat hubungan sel-sel saraf (neuron) otak yang berhubungan dengan fokus, konsentrasi dan kesadaran.


KONEKSI ANTAR MATERI

Keterkaitan materi pembelajaran sosial emosional dengan pembelajaran berdiferensiasi

WELL BEING

 

Anak belajar sat hati mereka terbuka, terhubung dengan lingkungan sekitar serta adanya tujuan. Belajar adalah Anugerah. Melalui pembelajaran sosial-emosional, kita menciptakan kondisi yang mengizinkan semua anak mengakses anugerah tersebut. Saat Kompetensi Sosial-Emosional (KSE) murid berkembang, maka aspek akademik merekapun berkembang. Hal tersebut selaras dengan pembelajaran berdiferensiasi yaitu serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat pendidik berorientasi kepada kebutuhan murid. Bagaiman guru menciptakan lingkungan belajara yang "mengundang" murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi. kemudian juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya. Dukungan di sini bisa berupa kesiapan sosial emosional mereka untuk mmengikuti pembelajaran, serta bagaimana pednidik merespon atau menanggapi kebutuhan belajar murid.

Sebagai pendidik, kita tahu bahwa murid akan menunjukkan kinerja yang lebih baik jika tugas-tugas yang diberikan sesuai keterampilan dan pemahaman yang mereka miliki sebelumnya (kesiapan belajar). Dari tugas-tugas tersebut memicu rasa keingintahuan atau hasrat dalam diri seorang murid (minat) dan jika tugas tersbeut memberikan kesempatan bagi mereka untuk bekerja dengan cara yang mereka sukai (profil belajar), ketiga komponen tersebut disebut dengan Kebutuhan Belajar Murid. Jika kebutuhan murid terpenuhi dan kesiapan sosial-emosionalnya tidak diabaikan, maka well being akan tercipta di dalam kelas antara guru, murid dan sekolah. 

Well Being adalah kondisi dimana individu memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakkna serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya.

Well Being yang optimum memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk :

- kesehatan fisik dan mental yang lebih baik

- memiliki ketangguhan (daya lenting/ resiliensi)dalam menghadapi stress

- terlibat dalam perilaku sosial yang lebih bertanggungjawab

- mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi


Koneksi Antar Materi modul 2.2.a.9


Selasa, 15 Maret 2022

MODUL 2.2.a.7 - DEMONSTRASI KONTEKSTUAL


Disini saya akan sedikit berbagi terkait salah satu tugas Calon Guru Penggerak di Angkatan 4 pada modul 2.2.a.7 tentang Pembelajaran Sosial Emosional, dalam penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) di pembelajaran ini kami pendidik diarahkan untuk menyusun RPP berdiferensiasi yaitu RPP yang menyesuaikan kebutuhan belajar murid. Kebutuhan belajar murid nantinya kan disesuaikan atau dilakukan pemetaan berdasarkan kesiapan belajar murid, minat dan profil belajar sekaligus penerapan strategi diferensiasi yaitu ada diferensiasi konten, proses serta produk, tujuannya nanti dalam proses pembelajaran murid akan lebih tertarik dan lebih memahami dalam pembelajarannya, selain itu dalam penyususnan RPP ini nanti juga akan ada penilaian terkait pembelajaran sosial emosional murid. 

Bisa juga buka di sini : https://bit.ly/DKmodul22a73suwas3

Kamis, 10 Maret 2022

TARI SIGRAK RONDA

Mengulas Singkat Karya 

Tari Sigrak Ronda

    karya: Tri Suwastri, S.Sn.


Tari Sigrak Ronda ialah salah satu karya tari yang saya ciptakan pada tahun 2019 dalam rangka mengikuti FLSSN (Festival Lomba Seni Siswa Nasional) cabang seni tari di tingkat SMK yang dilaksanakan di kantor Cabang Dinas Wilayah 7 Surakarta. Karya tari ini dibawakan oleh 5 siswa SMK Tunas Bangsa yang sebagian dari siswanya memang belum memiliki basic menari bermodal niat dan ketekunan berlatih. Dalam karya tari ini menceritakan tentang petugas ronda yang sigap dalam menghadapi situasi dan kondisi darurat, namun sebenarnya yang ingin dimunculkan pada karya tari ini adalah kegiatan ronda/ poskamling yang saat ini sudah mulai jarang ditemukan. Adanya kemajuan teknologi/ gedget seperti halnya kemunculan handphone yang kini lebih memudahkan orang untuk menjalin komunikasi tanpa memandang jarak, menjadi salah satu penyebab hilangnya kegiatan ronda/ poskamling. Yang dahulu bunyi kenthongan menjadi suatu pertanda terjadi suatu hal dikampungnya, kini semua informasi dapat tersebar dan diterima dengan mudah dengan teknologi handphone sekali kiat menulis dapat dijadikan story di whatsapp, facebook, intagram dan aplikasi lainnya.

berikut isi Sinopsis Tari Sigrak Ronda

Tari Sigrak Ronda ialah tari yang proses penggarapannya terinspirasi dari kegiatan ronda atau jaga malam. Kegiatan ronda sampai saat ini hampir hilang bahkan sudah jarang ditemukan di daerah pedesaan. Teknologi informasi yang semakin canggih membuat alat komunikasi tradisional menjadi semakin tergeser. Kenthongan merupakan alat komunikasi tradisional yang digunakan masyarakat pedesaan zaman dahulu sebagai penanda ada sesuatu yang terjadi dikampungnya. Pada karya tari sigrak ronda ini menggambarkan petugas ronda yang siap siaga berjaga malam tanggap dan cekatan. Di dalam karya tari ini juga dimunculkan suasana suka cita petugas ronda bercanda tawa dengan temannya untuk menghilangkan rasa lelah dan mengantuk.Hal yang ingin disampaikan dari karya tari ini ialah mengingatkan kembali masyarakat terhadap alat komunikasi tradisional kenthongan juga kegiatan ronda yang sekarang sudah tergeser adanya handphone sebagai alat komunikasi canggih membuat masyarakat seakan mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.


Tari ini dibawakan oleh murid kami SMK TUNAS BANGSA Tawangsari dari jurusan Teknologi Komputer dan Jaringan  dan jurusan Akuntansi dan Keuangan Lembaga, yaitu 

1.     Devi Agustina Astuti

2.     Oshela Cantika

3.     Rizki Febri Rahmawati

4.     Venusha Nazra Loventdha

               5.     Vutian Srihiyayati 

Dalam tari ini saya mengeksplor property Sarung, Lincak,  Kenthongan, untuk iringan musik pada saat itu masih menggunakan musik editing yang diambil dari iringan musik tari tampah bubrah dan tari dolanan, belum menggunakan musik orisinil dari rekaman.

Kebetulan  karya tari ini mendapatkan Juara 3 ketika maju di Cabang Dinas Wilayah 7 kota Surakarta, kami berhasil membawa pulang piala untuk sekolah kami SMK Tunas Bangsa meskipun masih diposisi 3 namun, kami bangga bisa mencapai diposisi itu, karena membutuhkan perjuangan yang tidak mudah untuk berada diposisi itu, tidak hany berhenti disitu karya tari ini juga mendapatkan undangan untuk mengisi acara di tingkat kecamatan sebagai tari sambutan.


Mengikuti lomba FLS2N di Cabang Dinas Wilayah 7 kota Surakarta, memperoleh Juara 3 dari SMK Tunas Bangsa Tawangsari.




Pementasan Tari Sigrak Ronda di Cabang Dinas Wilayah 7 kota Surakarta, Juli 2019.

Pementasan Tari Sigrak Ronda dalam acara REMBUG MADYA dan EXPO KTNA Kabupaten Sukoharjo, Oktober 2019.

MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN sebagai PEMIMPIN PEMBELAJARAN - KONEKSI ANTAR MATERI

  1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki  pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusa...