Minggu, 14 November 2021

Bentuk, Jenis dan Nilai Estetis Tari Tradisi

 

  • Bentuk,jenis,dan nilai estetis tari tradisi

       Selain konsep,teknik dan prosedur dalam gerak tari tradisi,banyak pula jenis dan bentuknya.

  1. Bentuk ragam gerak dasar tari tradisi
       Ada 3 bentuk penyajian yang dilakukan dalam ragam gerak dasar tari tradisi,yaitu ;

  • Tari tunggal : Adalah tari yang diperagakan oleh seorang penari baik laki-laki maupun perempuan.Contohnya tari Golek (Jawa Tengah).
  • Tari berpasangan : Adalah tari yang diperagakan oleh dua orang secara berpasangan.Contohnya tari Topeng ( Jawa Barat).
  • Tari kelompok : Adalah tari yang diperagakan lebih dari dua orang.
2. Jenis ragam gerak dasar tari tradisi
      Ada beberapa jenis ragam gerak dasar tari tradisi yaitu;

  • Ragam gerak dasar tari klasik yaitu gerak tari yang banyak menggunakan gerak murni dan gerak ekspresif serta imitatif yang telah distilir atau diperhalus.
  • Ragam gerak tari kerakyatan yaitu gerak tari yang banyak menggunakan imitatif dan ekspresif.
  • Ragam gerak dasar tari primitif yaitu tari yang berkembang pada daerah yang menganut kepercayaan animisme dan dinamisme.
3. Nilai estetis ragam gerak dasar tari tradisi
     Ada 5 unsur yang menjadi dasar untuk menilai indahnya sebuah pertunjukan tari yaitu;

  • Wiraga,yakni kesesuaian antara jenis tarian dengan umur dan fisik penarinya.
  • Wirama,yakni kesesuaian antara irama lagu atau musik pengiring.
  • Wirasa,yakni penghayatan yang dilakukan oleh penari terhadap materi.
  • Wicitra,yakni bagaimana keseluruhan gambaran yang dapat diperlihatkan sebagai sebuah keutuhan karya seni.
  • Konteks,yakni hubungan pertunjukan dengan momen atau acara tertentu.

Tari tersusun atas gerak satu dengan gerak lainnya. Gerak tersusun atas motif-motif gerak. jadi setiap gerak memiliki bentuk yang berbeda-beda. Jika mengingat pada pembelajaran yang lampau gerak agem misalnya terebntuk atas gerak tangan, badan dan juga kaki. Agem inilah yang disebut dengan bentuk gerak. demikian juga dengan gerak trisik (berjalan dengan kaki jinjit) merupakan bentuk gerak yang terbentuk dari gerak berjalan dan gerak tangan. Gerak juga memiliki jenis tersendiri. Ada gerak yang tidak mendapat sentuhan stilisasi tetapi ada juga gerak yang diberi stilisasi. Kedua jenis gerak ini menyatu dalam sebuah tari. perpaduan antara bentuk dan jenis gerak inilah nilai-nilai estetika pada tari dinikmati selain pendukung tari seperti tata rias dan tata busana serta properti

A. Bentuk Gerak Tari Bentuk (form)

sehubungan penataan dengan komposisi tari, menurut Autard merupakan  proses penataan atau pembentukan sebuah komposisi tari menghasilkan bentuk keseluruhan. Kata bentuk atau form digunakan pada bentuk seni manapun untuk menjelaskan sistem yang dilalui oleh setiap proses pekerjaan karya seni tersebut. Ide ataupun emosi yang dikomunikasikan sang penciptanya tercakup di dalam bentuk tersebut. Bentuk merupakan aspek yang secara estetis dievaluasi oleh penonton di mana penonton pada umumnya tidak melihat setiap elemen karya seni yang ditampilkan tetapi memperoleh kesan secara keseluruhan dari karya tersebut. John Martin menyatakan bahwa bentuk dapat didefinisikan sebagai hasil dari penyatuan berbagai elemen tari, yang dipersatukan secara kolektif sebagai kekuatan estetis, yang tanpa proses penyatuan ini bentuk tersebut tidak akan terwujud. Keseluruhan atau kesatuan bentuk itu, menjadi lebih bermakna dari pada beberapa bagiannya yang terpisah. Proses menyatukan, untuk memperoleh bentuk itu, dinamakan komposisi. 

Berdasarkan dari pengertian bentuk pada tari maka dapat disimpulkan bentuk tari berdasarkan geraknya, yaitu; 

a. Tari representasional adalah tari yang menggambarkan sesuatu dengan jelas (wantah), seperti tari tani yang menggambarkan seorang petani,  tari nelayan yang menggambarkan nelayan dan tari Bondan yang menggambarkan kasih sayang ibu kepada anaknya.  

b. Tari non representasional  yaitu tari yang melukiskan sesuatu secara simbolis, biasanya menggunakan gerak-gerak maknawi. Contohnya tari Topeng Klana, tari Srimpi, tari Bedaya.

B.  Jenis Gerak Tari

Gerak tari yang indah berasal dari proses pengolahan yang telah mengalami stilasi (digayakan) dan distorsi (pengubahan) sehingga lahirlah dua jenis gerak yaitu sebagai berikut. 1. Gerak murni atau disebut gerak wantah adalah gerak yang disusun dengan tujuan untuk mendapatkan bentuk artistik (keindahan) dan tidak mempunyai maksud-maksud tertentu. 2. Gerak maknawi (gesture) atau gerak tidak wantah adalah gerak yang yang mengandung arti atau maksud tertentu dan telah distilasi, Misalnya gerak ulap-ulap (dalam tari jawa) merupakan stilasi dari orang yang sedang melihat sesuatu yang jauh letaknya.

C.  Nilai Estetis dalam Gerak Tari

Nilai estetika pada tari tidak hanya dilihat secara keseluruhan tetapi juga dapat dilihat pada geraknya. Nilai estetika pada tari dapat diperoleh melalui penglihatan atau visual dan pendengaran atau auditif. Nilai estetika secara visual berdasarkan dari gerak yang dilakukan sedangkan secara auditif berdasarkan iringan tarinya. Nilai estetika  bersifat subjektif. Gerak bagi orang tertentu mungkin memiliki nilai estetika baik tetapi bagi orang lain mungkin kurang baik. Penilaian ini tidak berarti tari yang ditampilkan baik atau kurang baik.
Gerak pada tari merak misalnya, merupakan ungkapan keindahan dari gerak gerik kehidupan burung merak keindahan tersebut dituangkan dari gerak satu ke gerak lain sehingga menjadi satu kesatuan utuh. Demikian juga tari yang berkembang di daerah Dayak terinspirasi dari keindahan burung Enggang. Kepak sayap Enggang diwujudkan dalam bentuk gerakan yang gemulai tetapi cekatan dan tangkas.
Nilai estetika dapat pula dikatakan sebagai persepsi dan impresi. Persepsi adalah tahap di mana sensasi itu telah berkesan. Persepsi menggerakkan proses asosiasi-asosiasi dan mekanisme lain seperti komparasi (perbandingan), diferensiasi (pembedaan), analogi (persamaan), sintesis (penyimpulan). Kesemuanya menghasilkan pengertian yang lebih luas dan mendalam dan menjadi sebuah keyakinan yang disebut impresi. Jadi impresi merupakan kesan pertama terhadap gerak yang dilihat dan persepsi merupakan interpretasi terhadap gerak tersebut. Pada nilai estetika impresi dan persepsi merupakan dua sisi yang saling melengkapi. Nilai estetika juga dipengaruhi oleh emosi penikmat tari. Emosi merupakan  perasaan yang perlu digugah dan harus ada untuk dapat menikmati kesenian dan keindahan, serta merupakan perasaan (misalnya: sedih, senang, dan lainlain) yang dapat dikendalikan. Tanpa adanya emosi tidak mungkin ada kenikmatan seni. 
Keindahan yang ada dalam kesenian dan keindahan alam bisa dinikmati hanya oleh manusia yang bisa beremosi yaitu yang perasaannya bisa digugah. Emosi daapt terjadi antara penari dengan penikmat ketika gerak sebagai Bahasa komunikasi nonverbal dapat menghadirkan makna sesuai yang ingin disampaikan. Pada dramatari misalnya, ungkapan emosi dapat disampaikan secara nonverbal melalui desain dramatik atau nyanyian sebagai dialog.


SMK Tunas Bangsa Tawangsari, 15 November 2021

Tidak ada komentar:

MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN sebagai PEMIMPIN PEMBELAJARAN - KONEKSI ANTAR MATERI

  1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki  pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusa...